| Cara Mendongeng |
| Ditulis oleh Drs. Mohammad Fakhrudin, M.Hum |
| Minggu, 18 Januari 2009 17:59 |
|
I. Pendahuluan Mendongeng/bercerita merupakan keterampilan berbahasa lisan yang bersifat produktif. Dengan demikian, mendongeng/bercerita menjadi bagian dari keterampilan berbicara. Keterampilan mendongeng sangat penting bagi penumbuhkembangan keterampilan berbicara bukan hanya sebagai keterampilan berkomunikasi, melainkan juga sebagai seni. Dikatakan demikian karena mendongeng memerlukan kedua keterampilan berbicara tersebut. Mendongeng adalah menceritakan dongeng, yakni cerita yang tidak benar-benar terjadi; terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh kepada pendengar. Berdasarkan pengertian ini, pendongeng dituntut mampu memanfaatkan sarana fisik berupa alat penghasil suara secara optimal. Malahan, jika mendongeng itu dilakukan di hadapan pendengar, ia dituntut pula mampu memanfaatkan sarana fisik lainya, yakni tubuh dan anggota tubuh untuk melakukan mimik dan pantomimik yang menarik. Baik mendongeng di hadapan pendengar maupun di radio tidak lepas dari pihak pendengar. Oleh karena itu, pendongeng harus beranggapan bahwa ketika mendongeng sesungguhnya ia sedang berkomunikasi dengan pendengar. Ini berarti bahwa ia harus menyadari apa yang didongengkannya mungkin didengarkan mungkin diabaikan oleh pendengar. Jadi, pendongeng harus menyadari bahwa ia mendongeng bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pendengar. Ketika saya belajar di SD, mendongeng merupakan bagian dari kegiatan belajar yang selalu dapat saya ikuti tiap hari. Ada kegairahan pada kami setiap menyimak dongeng yang disampaikan oleh guru. Kami memperoleh tambahan pengalaman batin yang sangat banyak dan bermanfaat. Imajinasi kami berkembang. Keinginan kami pun tumbuh dan berkembang untuk mencontoh tokoh "idola" dan berusaha tidak mencontoh perbuatan tokoh jahat. Malahan, tumbuh pula keinginan menjadi penegak dan pembela kebenaran dan keadilan. Sementara itu, guru pun tampak bergairah. Kadang-kadang disisipkannya kelucuan-kelucuan dan keharuan-kaharuan yang sangat mengesankan sehingga kami merasa bahwa menyimak dongeng menjadi salah satu bagian kebutuhan. Suasana itu terjadi hampir setiap menjelang pulang sekolah. Kebiasaan menyimak dongeng sering pula dilakukan oleh anak ketika menjelang tidur. Orang tua selalu menyediakan waktu untuk mendongeng dan anak selalu meminta orang tua untuk mendongeng. Seakan-akan berlaku ungkapan "Tiada malam tanpa dongeng". Anak asyik menyimak, sedangkan orang tua asyik mendongeng. Anak tidur pulas setelah menyimak dongeng (kadang-kadang sebelum dongeng berakhir), sedangkan orang tua puas juga memandangi anak (cucu) yang tidur pulas. Mungkin sekarang ada perubahan drastis pada siswa dan guru dalam hal dongeng-mendongeng. Siswa tidak lagi merasa perlu menyimak dongeng dari guru karena dapat menyimak dan/atau membaca cerita dari sumber lain. Mungkin pula siswa sudah merasa lebih asyik dengan dongeng-dongeng asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang dapat dibacanya setiap saat, baik dengan membeli sendiri maupun dengan menyewa. Di pihak lain, guru sendiri pun mungkin semakin merasa kalah bersaing atau tidak mempunyai waktu lagi untuk menambah khazanah dongeng apalagi secara kreatif mengarangnya. Semua itu hanya asumsi-asumsi yang masih harus diteliti kebenarannya. Sebaiknya, lupakan saja! Melalui makalah ini Anda dapat mempelajari ihwal mendongeng/bercerita. Diharapkan dengan mempelajari makalah ringkas ini dan berbagi pengetahuan dan pengalaman Anda mempunyai pengetahuan dan keterampilan mendongeng untuk kepentingan pendidikan bahasa dan akhlak. II. Syarat-Syarat Pendongeng Berdasarkan sarana yang digunakan oleh pendongeng, syarat-syarat yang perlu diperhatikan sebagai pendongeng dapat diuraikan secara garis besar sebagai berikut. A. Syarat Fisik
Pelatihan yang dilakukan oleh pendongeng tidak hanya di tempat-tempat khusus, misalnya, sanggar atau padepokan, tetapi juga dalam kehidupan nyata. Pelatihan itu dilakukannya tanpa mengenal batas ruang dan waktu. A. Pelatihan Fisik: Olah Kelenturan Tubuh secara Umum Mengolah kelenturan tubuh secara umum dilakukan dengan berbagai cara, misalnya, senam, pencak silat, tari, dan yoga. Untuk keperluan itu, sebaiknya dipilih jenis pelatihan tersebut secara variatif. Namun, perlu diperhatikan kondisi fisik masing-masing. Jenis yang cocok bagi seseorang, belum tentu cocok bagi yang lain. Hal ini sesuai dengan kebutuhan juru wicara masing-masing. Oleh karena itu, pelatihan dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai dengan takaran yang tepat. Di bawah ini disajikan beberapa pelatihan fisik yang perlu dilakukan. 1. Materi Pelatihan Sikap
3. Pelatihan Olah Vokal/Pernafasan Yang dimaksud degan pelatihan olah vokal/pernafasan di sini adalah melakukan kegiatan yang bersifat melatih sehingga diperoleh keterampilan membacakan naskah dengan benar dan indah. Dengan demikian, alat ucap yang menghasilkan bunyi-bunyi bahasa secara keseluruhan, baik vokal (dalam arti bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan tanpa hambatan), semi vokal, diftong, maupun konsonan harus memperoleh perhatian secara intensif. a. o ? ? ? é ? u dengan urutan yang divariasikan dengan sebaliknya secara berkelompok dan/atau perseorangan dengan “senggakan”?, ?y, ?w Kelompok I : o ? ? ? é ? u Kelompok II : ? Kelompok III : u ? é ? ? ? o Kelompok II : ?y Kelompok I : o ? ? ? é ? u Kelompok III : ?w b. mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara terlepas-lepas, dengan memilih bunyi-bunyi kontras, misalnya, P -- P -- P K -- K - K PP -- PP -- PP KK -- KK -- KK PPP -- PPP -- PPP KKK -- KKK -- KKK PPP -- BBB -- PPP KKK -- GGG -- KKK B -- B -- B G -- G -- G -- G BB -- BB -- BB GG -- GG -- GG BBB -- BBB -- BBB GGG -- GGG -- GGG BBB -- PPP -- BBB GGG -- KKK -- GGG c. mengucapkan bunyi-bunyi bahasa dalam kata-kata, misalnya, mari kita beramai-ramai pagi pagi bagi bagi pergi ke pantai gaya kaya bersantai dagu daku sambil berandai-andai gerah kerah terbuka menikmati satai dan gulai tak berbaju berpacu waktu di pantai nyiur melambai-lambai di makam dia makan rambut tergerai berjurai-jurai harum kemenyan badan semampai lemah gemulai Yang Penyayang dibilang sayang saya wow, hati kita tergadai tetapi, tetap cara catat wahai, duhai, amboi! nah, tahan marah ganti ramah di pulau hijau suara saudara riuh di propinsi Riau mulut berbuih kita terpukau terhimbau lautan luapkan air suara nurani kau teriakkan kepedihan berdiri sendiri tubuhmu tak lagi mampu muat ruh berpacu waktu mautmu dijemput mengamalkan ilmu suka cita kala dulu kau lahir berakhir kepulauan himbuan kini ganti duka cita kedamaian kegemulaian tak kuasa kau menahan aku tak akan menyembunyikannya sedetik detak jantung pun jangan jadi robot harus diingat di langit tetapi tokoh berbobot tak ada yang sisa dan sia-sia jangan membuat heboh saitan sesatkan siapa saja buatlah diri berdiri kokoh tetapi, orang takwa tidak d. mengucapkan puisi, misalnya, MENATAP OMBAK DI LAUT (karya Ajib Hamzah) Di pantai Aku di pantai Siang hari ini aku di pantai Sendiri siang hari ini aku di pantai Sendiri dalam terik siang hari aku di pantai. Menatap ombak sendiri dalam terik siang hari ini aku di pantai Menatap ombak dahsyat sendiri dalam terik siang hari ini aku di pantai. BUNYI (karya Ajib Hamzah) Di malam sepi pecah bunyi-bunyi kecapi pipi pipa papi papa pepaya ya ya ya yang terpercaya tapi jauh dari mata matahari hari hari dalam hujan turun dan lembayung burung-burung sarang barang borongan buku bukan bakmi mi mi mi mihun e. Gerakan-Gerakan untuk Pelatihan Vokal/Pernafasan
f. Berzikir dengan Mengatur Perhentian
g. Materi Pelatihan Tenggorokan
B. Pelatihan Mental/Rohani dan Daya Pikir Beberapa sarana mental/rohani dan daya pikir yang perlu dilatih dapat dikemukakan secara garis besar sebagai berikut. 1. Pelatihan Konsentrasi
3. Pelatihan Seni
IV. Mendongeng di Hadapan Pendengar, di Panggung/Kelas Mendongeng di hadapan pendengar menggunakan sarana fisik secara utuh, baik yang dimiliki secara fisik maupun yang disediakan di luar diri pendongeng. Sarana fisik pendongeng telah dikemukakan pada bagian awal. Oleh karena itu, yang perlu dikemukakan pada bagian ini ialah sarana fisik yang ada di luar pendongeng itu sendiri. Beberapa sarana fisik di luar fisik pendongeng itu sendiri terdiri atas panggung, benda-benda properti dan pendengar. A. Mengenal Wilayah Panggung dan Wataknya Ada dua hal yang perlu dipahami berkaitan dengan panggung, yakni (1) arah panggung dan (2) wilayah panggung. Arah panggung terdiri atas kanan (Kn), kiri (Kr), garis tengah (T), layar (L), dinding (wing), tangga (T), upstage, downstage, offstage, dan onstage. Jika digambar, arah panggung tampak sebagai berikut. G C H J A B E D F Panggung mempunyai watak. Secara tradisional, panggung dibagi menjadi enam wilayah. Tiap wilayah mempunyai watak. Itulah sebabnya tiap wilayah panggung mempunyai fungsinya masing-masing. Berkenaan dengan itu, pemain drama pangung harus memanfaatkan panggung sesuai dengan watak wilayah tersebut. Dengan cara demikian adegan yang ditampilkan benar-benar mencapai tujuan. Keenam wilayan panggung tersebut tampak pada bagan di bawah ini. Keterangan Watak Panggung:
B. Mengenal Properti Properti adalah segala benda yang dimanfaatkan sebagai kelengkapan pementasan, baik yang diletakkan di panggung maupun dibawa oleh pemain. Yang diletakkan di panggung misalnya meja kursi, kapstok, dan mungkin tempat tidur. Yang dibawa pemain misalnya adalah sisir, pisau, dan senjata. Semua itu harus dikenal menurutnya fungsinya, tidak hanya hanya fungsi primernya, tetapi juga fungsi primer. Fungsi primer ialah fungsi utama. Kursi, misalnya, mempunyai fungsi preimer untuk duduk. Namun, benda itu mempunyai sekunder bermacam-macam; mungkin untuk menyimpan sesuatu, menangkis serangan pukulan lawan main, berlindung, dan menjadi alat untuk melampiaskan kemarahan. C. Mengenal Berbagai Watak Tokoh Dongeng Pengenalan terhadap tokoh mencakupi tiga dimensi, yaitu (1) fisiologis, (2) sosiologis, dan (3) psikologis. Yang termasuk dimensi fisiologis di antaranya adalah jenis kelamin, umur, dan postur tubuh. Yang termasuk dimensi sosiologis di antaranya adalah pergaulan, status sosial, dan aktivitas sosial. Yang termasuk dimensi psikologis di antaranya adalah cita-cita, masa lalu, dan wataknya. Jadi, pengenalan terhadap pemain lain tidak hanya sebatas mengenal nama. D. Mengenal Akting Akting merupakan gerak-gerik pendongeng, baik mimik maupun pantomimik, di pangung/ kelas untuk mengekspresikan atmosfir dongeng dan watak pemain. Jadi, akting hakikatnya penampilan pendongeng secara utuh di pangung/kelas. Dengan akting itulah pendongeng tampak sedih, gembira, benci, dendam, dll. Sarana yang digunakan untuk berakting ialah tubuh dan anggota tubuh dengan bagian-bagiannya. Untuk mengekspresikan kesedihan biasanya orang menangis. Nah, sarana yang digunakan untuk menangis misalnya mulut, mata, hidung, dan tangan. E. Mengenal Gesture dan Business Gesture hakikatnya gerak (anggota) tangan yang berkecil-kecil yang dimaksudkan untuk memperkuat akting dalam rangka mengekspresikan watak atau keadaan emosi tertentu. Misalnya, pada saat mendongeng, pendongeng mempermainkan jarinya ke hidung, mulut, ke kepala, dll. Mungkin juga ia menggerak-gerakkan jarinya ke kursi, meja, atau benda-benda lain pada saat gelisah. Business merupakan gerak pendongeng yang dilakukan untuk memperkuat adegan dan akting. Misalnya, untuk menggambarkan kegelisahan, pendongeng berjalan mondar-mandir atau merokok. F. Mengenal Ekspresi Wajah Yang sangat penting peranannya untuk ekspresi wajah ialah mata. Untuk menunjukkan berbagai eksrepsi emosi matalah yang sangat dominan. Orang marah, gembira, atau bingung dsb. dapat ditunjukkan melalui pandangan pendongeng. Sementara itu, mulut memperkuat peranan mata. Oleh karena itu, kedua sarana itu harus dilatih secara teknis agar dapat berfungsi secara optimal dan lentur. G. Mengenal Posisi dan Gerak Kaki Kaki mempunyai fungsi memperkuat watak dan emosi pendongeng. Dengan posisi tegak lurus, misalnya, kaki mempunyai fungsi mengekspresikan emosi tertentu; mungkin sedang mengekspresikan ketegasan sikap ketika menghadapi masalah. Dengan posisi lain, ada maksud lain pula yang diekspresikan. Gerak kaki bermacam-macam. Namun, yang perlu diingat ialah kesesuaiannya dengan watak dan kondisi emosi yang diperankannya. Dalam kondisi gelisah, misalnya, gerak kaki tidak terarah. Gerakan kaki dalam kedaan normal yang lazim ialah melangkah maju. Namun, dalam keadaan terdesak, takut, atau terkejut kaki dapat digerakkan mundur. V. Mendongeng di Radio Sesuai dengan karakteristik radio, mendongeng di radio lebih menuntut sarana fisik berupa suara (atau vokal) dan imajinasi. Suara yang digunakan oleh pendongeng itulah yang menjadi sarana untuk menghadirkan watak, suasana kejiwaan tokoh, dan keadaan atau peristiwa tertentu. Sementara itu, imajinasi pendongeng berfungsi sebagai sarana untuk merangsang pancaindra sehingga mampu menghadirkan tokoh secara tepat dan menghadirkan peristiwa yang didongengkan. Ketika mendongeng di radio, suara tidak sekadar berfungsi untuk menggambarkan suasana kejiwaan tertentu sang tokoh, misalnya, sedih, gembira, kecewa, bangga, sinis, sombong, atau kesal, tetapi juga untuk membangkitkan imajinasi pendengar. Di dalam sandiwara radio betapa hebatnya pengaruh warna suara Ferry Fadli terhadap imajinasi pendengar mengenai tokoh, misalnya, Brahma Kumbara. Dengan warna suara yang mantap, Ferry Fadli berhasil membentuk imajinasi pendengar mengenai sosok fisik tokoh tersebut. Pendengar membayangkan tokoh tersebut bertubuh tinggi besar dan berpenampilan penuh kewibawaan bahkan sangat mungkin timbul bayangan pada pendengar bahwa Ferry Fadli bertubuh tinggi besar dan berwibawa. Namun, bayangan tersebut tidak seluruhnya betul. Dalam sinetron atau film layar lebar pemeran Brahma Kumbara memang diperankan oleh orang yang bertubuh tinggi besar dan berwibawa, tetapi Ferry Fadli itu sendiri bertubuh kurus. Ketika mendengar teriakan Eny Ermawati, pemeran tokoh Mantili, “Ciaaat!”, pendengar drama radio membayangkan Mantili meloncat dengan gesitnya sambil menghunus pedang. Ketika mendengar suara, misalnya, “Kakang Mas” kemudian dijawab, “Oh, Di Ajeng” yang diucapkan dengan desah mesra oleh dua tokoh berlainan jenis, dan mendengar kicau burung yang menggambarkan suasana bahwa tidak orang lain kecuali hanya dua sejoli itu dan burung itu saja, atau mendengar bunyi jengkerik yang menggambarkan suasana malam di suatu tempat tertentu, pendengar membayangkan tindakan kedua tokoh tersebut. Mungkin terbayang kedua sejoli itu sedang berpelukan mesra, tangan tokoh pria membelai rambut tokoh wanita. Jika pemeran tidak menggunakan imajinasinya, timbul kejanggalan. Pelatihan mendongeng di radio dilakukan dengan melatih semua sarana yang digunakan sebagaimana yang diuraikan di atas. Di samping itu, pendongeng perlu pula berlatih sebagai berikut. A. Mengenal Properti Yang harus dikenali betul oleh pendongeng adalah mikrofon. Pendongeng harus mengatur jarak antara mulut dan mikrofon. Di samping itu, pendongeng harus dapat juga menghadapkan mulutnya secara tepat. Untuk menggambarkan percakapan pada jarak dekat, mulut berada pada jarak sekitar lima belas sentimeter. Namun, untuk menggambarkan percakapan pada jarak jauh, mulut berada pada jarak yang cukup jauh atau malahan tidak mengarah lurus pada mikrofon. B. Mengenal Setting Pendongeng harus memahami kapan dan di mana adegan terjadi. Pemahaman ini sangat penting karena ia harus membangkitkan imajinasi pendengar sesuai dengan adegan itu. Jika suatu adegan terjadi di kamar tidur pada malam hari dalam suasana mesra, ia mendongeng harus dengan memperhatikan setting itu. Ia dituntut dapat membayangkan dirinya sedang berada di tempat tidur sambil berbaring di samping tokoh lain. Selanjutnya, ia pun membayangkan secara detail apa saja yang lazim ada di tempat tidur dan apa pula yang lazim dilakukan dalam bermesraan. Dengan demikian, ia dapat mendongeng sesuai dengan tuntutan dongeng. Lain lagi jika peristiwa itu terjadi di pantai; apa yang diimajinasikan pendongeng tentu bukannya tempat tidur, melainkan deburan ombak, pasir, burung camar atau benda-benda lain yang lazim ada di pantai. Oleh karena itu, ketika mendongeng, ia harus memperhatikan semua itu agar adegan itu hadir pada pendengar secara utuh. VI. Memahami Naskah Dongeng Ada bebarapa langkah yang perlu kita tempuh dalam memahami naskah dongeng, baik memahami naskah dongeng panggung/kelas maupun memahami naskah dongeng radio. Secara umum pada dasarnya ada kesamaan langkah, yakni sebagai berikut.
Langkah-Langkah Mendongeng:
VIII. Catatan Penutup Mendongeng memerlukan keterampilan menggunakan sarana fisik, mental/rohani, dan daya pikir. Keterampilan itu memerlukan pelatihan secara serius. Oleh karena itu, pendongeng harus berlatih. Mendongeng berkaitan dengan seni. Itu sebabnya bakat seni sangat berperan. Namun, untuk kepentingan pendidikan keterampilan berbahasa, mengapresiasi seni, dan pendidikan akhlak, setiap guru sesungguhnya dituntut mempunyai keterampilan mendongeng, dan keterampilan itu dapat dimilikinya asal ia mau berlatih serius. Daftar Pustaka Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar-Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: YA3. Ali, Muhammad. 1987. Technik Menulis Skenario Drama Pentas, Drama Radio, Drama Teve. Surabaya: Bina Indra Karya. nirun, Suyatna. 1990. “Suara, Kendaraan Imajinasi.” Makalah disajikan dalam Lokakarya Pengembangan Teater di Perguruan Tinggi. Bandung: Unit Teater Mahasiswa IKIP Bandung. Fakhrudin, Mohammad. 1994. "Antara Realitas dan Imaji di dalam Drama" dalam Surya. Nomor 18, (Juni, V): 1-10. Fakhrudin, Mohammad. 1999. "Kaidah Fonologis Vokal dan Diftong Bahasa Indonesia" dalam Surya. Nomor 38 (Juni, IX): 1-13. Fakhrudin, Mohammad. 2000. "Berteater secara Total" (Diktat) Purworejo: Universitas Muhammadiyah Purworejo. Fakhrudin, Mohammad. 2002. "Penggunaan Bahasa dalam Program Audio/Radio" Makalah disajikan dalam Pelatihan Penulisan Naskah dan Produksi Program Audio/Radio yang diselenggarakan oleh Balai Teknologi Komunikasi dan Perpustakaan Sekolah Dinas P dan K Jawa Tengah 27 s.d. Agustus 2002 di Semarang. Hamzah, A. Ajib. 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: Rosda. Harymawan, R.M.A. 1988. Dramaturgi. Bandung: Rosda. Iskandar, Eddy D. 1999. Panduan Praktis Menulis Skenario. Bandung: Remaja Rosdakarya. Majalaya, Ismet. 1990. “Sang Aktor dan Tubuhnya.” Makalah disajikan dalam Lokakarya Pengembangan Teater di Perguruan Tinggi. Bandung: Unit Teater Mahasiswa IKIP Bandung. Padmodarmaya, Pramana. 1973. “Pola Pembinaan Seorang Pemeran” Semarang: KGTS. Padmodarmaya, Pramana. 1988. Tata dan Teknik Pentas. Jakarta: Balai Pustaka. Prasmadji, R.H. 1984. Teknik Menyutradarai Drama Konvensional. Jakarta: Balai Pustaka. Rendra, W.S. 1976. Tentang Bermain Drama. Jakarta: Pustaka Jaya. Stanislavski. 1980. Persiapan Seorang Aktor. Terjemahan Asrul Sani. Jakarta: Pustaka Jaya. Subroto, Darwanto Sastro. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Tambojong, Jopi. 1981. Dasar-Dasar Dramaturgi. Bandung: Pustaka Prima. Tarigan, H.G. 1987. Berbicara sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Umari, Darius. 1982. “Menulis Skript Drama/Sandiwara Radio." Makalah disajikan dalam Lokakarya Penulis Naskah Drama/Sandiwara Radio,17 September 1982. Jakarta: Badan Pembinaan Pendidikan Kependudukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Wijaya, Putu. 1990. “Naskah (Gagasan dan Pengalaman).” Makalah disajikan dalam Lokakarya Pengembangan Teater di Perguruan Tinggi. Bandung: Unit Teater Mahasiswa IKIP Bandung. Lampiran: Sungai Jernih Di suatu desa tinggal seorang janda. Dia hidup bersama dua anaknya yang masih kecil. Yang sulung Buyung namanya. Umurnya sekitar sepuluh tahun. Yang bungsu Upik namanya. Umurnya sekitar tujuh tahun. Kedua anak itu sangat manja. Apa yang mereka inginkan mesti terjadi. Apa yang mereka mau harus ada. Pada suatu hari ibunya ingin menghadiri hajatan di tetangga desa. "Mak, aku ikut …" rengek si Sulung. "Iya … Mak. Aku juga aikut …" si Bungsu turut merengek sambil memegang kain ibunya. "Aduh, Buyung … Upik … tinggallah di rumah. Kalian tak usah ikut…," jawab si Ibu. "Pokoknya … ikut!" kata si Sulung. "Iya, Mak! Ikut … ikut!" pinta si Bungsu hampir menangis. Ibu itu akhirnya tak dapat menolak rengekan kedua anaknya. Mereka pergi bersama diantar dengan bendi oleh bujangnya. "Tong … tong … tong …" terdengar musik tongtong begitu mereka tiba di tempat hajatan. Lampiran: Dongeng Kumang Dahulu kala ada seorang gadis cantik bernama Kumang. Ia tinggal bersama anjingnya di sebuah rumah di tengah hutan. Untuk menopang hidupnya sehari-hari ia rajin menjala ikan dari pagi hingga petang. Pada suatu hari, tidak seperti biasanya, tak seekor ikan pun menyangkut dalam jalanya. Padahal, hari sudah mulai senja. Ditebarkannya sekali lagi jalanya ke sungai. Ketika jalanya diangkat, tampak seekor ular kecil yang tak berdaya tersangkut di dalamnya. Diambilnya ular itu, dibawanya pulang dan dipiaranya ular itu dalam sebuah tempayan cina yang besar. Ular kecil itu tumbuh menjadi ular besar. Akhirnya, jadilah ular itu seekor naga yang besar dan menakutkan. Naga itu dibiarkannya tinggal dalam rumah sebab tempatnya tinggal semula sudah tidak muat lagi dengan tubuhnya itu. "Wahai. Naga, mengapa kau makan terlalu banyak? Kata Kumang. Naga itu diam saja, hanya semburan api yang tampak keluar dari mulutnya. "Semua milikku telah kujual untuk membeli makananmu. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi," keluh Kumang. Tiba-tiba naga itu berkata, "Sebesar apakah jantungmu, Kumang?" Kumang terlonjak kaget sebab selama ini belum pernah mendengar naga itu dapat berbicara. Lama baru Kumang dapat menjawab, "Jantungku hanya sebesar daun kecil." "Maafkan aku," kata naga. "Aku lapar. Aku ingin makan jantungmu." "Baiklah, kata Kumang." Aku rela jika kau ingin makan jantungku. Tapi carilah dulu sebatang bambu. Nanti masukkan jantungku ke dalam lubang bambu itu, campurlah dengan beras, kemudian panaskan bambu itu di atas api. Dengan cara begitu, kau akan merasakan betapa lezat jantungku nanti." Selagi naga pergi mencari bambu. Kumang pergi dengan meninggalkan pesan kepada anjingnya. "Jika naga kembali, katakan padanya aku pergi dan takkan kembali dalam waktu yang cepat." Kumang lari ke kebun karet milik tetangganya, Danjal. Dipanjatnya pohon yang tinggi. Diguyurnya batang pohon itu dari atas dengan minyak. Setelah itu, duduklah ia di dahan besar pohon itu. Tidak lama kemudian, kembalilah naga dengan membawa seruas bambu. Marahlah ia setelah mendengar pesan yang disampaikan oleh anjing si Kumang. Segeralah jejak Kumang diikuti. Sampailah naga itu di bawah pohon tempat Kumang bersembunyi. Dipanjatnya pohon itu. Tapi karena pohon itu licin terguyur minyak, naga itu tidak dapat meneruskan usahanya. Ditunggunya Kumang di bawah pohon. "Dia takkan dapat bertahan di atas pohon," gumam naga itu. Tak lama kemudian, datanglah Juara, teman Danjal, ke kebun karet itu. Ia mendengar suara kecil memanggilnya dari atas pohon," Juara, katakan pada Danjal agar membakar kebun karet ini sebab semua pohon karet di sini sudah tua. Tahun mendatang ia dapat menanami kebunnya lagi dengan pohon-pohon karet baru." Kemudian Juara mendengar suara lain, agak berat dan menyeramkan. "Jangan kau lakukan itu, Juara! Bila pohon-pohon di sini dibakar, Danjal akan menderita kerugian yang sangat besar." Juara ketakutan mendengar suara-suara yang bertentangan itu. Suara pertama mirip suara peri dan yang kedua seperti suara hantu jahat yang menakutkan. Lalu, larilah ia ke rumah Danjal. "Ada apa?" tanya Danjal. "Kau seperti habis melihat hantu." Juara menceritakan semua yang didengarnya kepada Danjal. "Baiklah," kata Danjal, "jika peri menyuruh membakar semua pohon karetku, aku yakin, pasti maksudnya baik. Kalau begitu, akan mematuhinya." Bersama dengan Juara, Danjal membakar kebun karetnya. Sewaktu mereka melihat-lihat bekas kebun karetnya pada keesokan harinya, beristirahatlah mereka, duduk di batang pohon yang hitam karena terbakar. Danjal membelah kelapa yang dibawanya dengan golok untuk diminum airnya sebagai penawar rasa dahaganya. Sesudah itu goloknya ditancapkan ke batang pohon hitam tempat duduknya, tetapi, tiba-tiba dilihatnya darah menyembur dari batang pohon tempat golok itu tertancap. Segera ia dan Juara tahu bahwa yang disangka batang pohon itu sebenarnya seekor naga yang mati terbakar. Danjal kemudian melihat buah aneh di cabang sebatang pohon tinggi yang masih berdiri tegak. Ia heran pohon itu tidak ikut terbakar. Juara mencoba memanjat pohon itu, tetapi tak dapat karena licin oleh minyak. Tetapi dengan berkali-kali mencoba, akhirnya mereka dapat memetik buah aneh itu dan dibawanya pulang. "Aku belum pernah melihat buah seperti ini," kata Danjal. "Buah ini lunak dan berwarna merah muda." Ia meletakkan buah itu di tempat tidur dalam kamarnya. Waktu ia dan Juara makan malam, terdengar seseorang menyanyi dari dalam kamarnya. Mereka masuk ke dalam kamar. Dilihatnya buah itu memancarkan sinar keemasan. "Tutup mata kalian!" kata sebuah suara kecil. "Aku akan menghilang. Sampai hitungan kedua puluh, baru kalian boleh membuka mata." Danjal dan Juara memejamkan mata mereka. Saat mereka membuka mata, buah itu telah terbelah. Mereka melihat Kumang duduk tersenyum di atas tempat tidur. Katanya, "Kalian tak perlu takut. Biarkan aku menceritakan apa yang telah kualami." Selesai Kumang bercerita Danjal berkata, "Kau amat beruntung, Kumang. Aku tahu kejadian itu membuatmu sangat ketakutan. Kini semua telah berlalu. Naga jahat itu telah mati terbakar. Menurut pendapatku, sebaiknya kausudahi hidup menyendiri. Maukah kau kujadikan istriku dan hidup di rumah ini bersamaku?" Akhirnya, Kumang diperistri oleh Danjal. Mereka hidup bahagia sampai akhir hayat mereka. (Dikutip dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi hlm. 1.18-1.20) Download artikel di sini - download |





