Kompetensi Mengajar Guru IPS SMA Kabupaten Purworejo
Ditulis oleh Dr. S. Eko Putro Widoyoko, M.Pd.   
Kamis, 15 Januari 2009 13:55
Download selengkapnya di sini - download
 
          Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) tingkat kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Purworejo; (2) sumbangan latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar dan etos kerja terhadap kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Purworejo.
          Populasi penelitian ini seluruh guru IPS SMA Kabupaten Purworejo yang berjumlah 149 orang guru dan dikelompokkan menjadi lima kelompok guru yang mengajar bidang studi IPS, yaitu :(1) Ekonomi, (2) Geografi, (3) Sejarah, (4) Sosiologi dan (5) Antropologi. Sampel penelitian ini berjumlah 112 orang, ditentukan dengan berpedoman pada formula Cohen. Pengambilan sampel untuk masing-masing kelompok bidang studi menggunakan teknik proportional random sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket dengan memakai skala Likert dan test.Teknik analisis data yang digunakan adalah analsis deskriptif dan analisis inferensial.
          Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Purworejo : 19,6 % tergolong tinggi, 59,8 % tergolong cukup, dan 20,5% tergolong kurang. Berdasarkan perhitungan korelasi parsial menunjukkan bahwa: (1) latar belakang pendidikan guru memberi sumbangan sebesar 11,11 % ( ry1.23 = 0,3333; p < 0,05) terhadap kompentensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Purworejo, (2) pengalaman mengajar guru memberi sumbangan sebesar 6,35% (ry2.13 = 0,2520; p < 0,05) terhadap kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Purworejo, (3) etos kerja  memberi sumbangan positif sebesar 16,59% ( ry3.12 = 0,4074; p < 0,05) terhadap kompetensi mengajar guru IPS SMA Kabupaten Purworejo. Hasil analisis regresi ganda mengungkapkan adanya sumbangan positif yang signifikan secara bersama-sama dari latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar dan etos kerja sebesar 46,3 % (R = 0,680; F = 30,990; sig. < 0,05) terhadap kompetensi mengajar IPS SMA Kabupaten Purworejo.

Kata kunci : kompetensi, pengalaman  mengajar, tingkat pendidikan, etos kerja

Pendahuluan
 
          Pemberlakuan kurikulum baru pada tahun 2004 yang berbasis kompetensi menuntut peningkatan kualitas guru. Kepala Pusat Kurikulum, Siskandar  mengatakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi yang akan segera diberlakukan memerlukan kualitas guru yang memadai. Oleh karena itu supaya pelaksanaan kurikulum berjalan seperti yang diharapkan banyak pihak, perlu ada upgrade terhadap kemampuan guru (http://www.puskur.or.id/kurikulum masa depan-shtml:1 Mei 2004).
          Kebutuhan akan peningkatan kompetensi guru tidak semata-mata karena adanya kurikulum baru, namun juga karena adanya kenyataan bahwa tidak sedikit guru yang kompetensinya tidak seperti yang diharapkan. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian tentang mutu dan kompetensi guru yang dilakukan oleh Kanwil Diknas DKI Jakarta pada tahun 2001. Hasilnya sungguh mengagetkan. Dalam uji pemahaman ilmu dan kurikulum terhadap 3000 guru SMA di Jakarta, 421 di antaranya adalah guru fisika. Dari jumlah itu, lebih dari 90 % hanya mendapat nilai di bawah lima. Bahkan dalam seminar tentang rivalitas sumber daya manusia dalam upaya pemberdayaan madrasah di Jakarta, pertengahan bulan September 2001, terungkap bahwa jumlah guru madrasah yang berkualitas di Indonesia hanya 203.485 orang saja atau 53,2 % dari jumlah seluruh guru madrasah yang ada di Indonesia. Sedangkan sisanya, 179.329 atau 46,8 % dianggap tidak berkualitas (http:// www. gamma.co.id/artikel/31-3/pendidikan-GM.10109-98,shtml,:19 Juni 2004). Bahkan menurut  Fuad Hasan, hanya 30% guru-guru masa kini yang layak mengajar (http://www.Mentawai.org./pot.9htm: 10 Oktober 2004). Di sisi lain sekitar 20% guru SLTA masih berpendidikan kurang dari yang dituntut (under qualified), sehingga dari hasil uji kompetensi guru yang dilaksanakan oleh tim Direktorat Tenaga Kependidikan bekerjasama dengan Pusat Kurikulum, PGRI, dan LPTK, hasilnya menunjukkan bahwa penguasaan guru terhadap materi pelajaran untuk semua pelajaran rata-rata  di bawah 50%. Hasil tersebut menurut Siskandar masih konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya, di mana penguasaan guru terhadap materi pelajaran yang diajarkan di SD, SLTP, dan SLTA masih rendah (http://www suara merdeka harian. com./harian/0304/21/htm : 10 Oktober 2003)
          Dilihat dari Nilai Ebatanas Murni (NEM), perolehan hasil pembelajaran IPS di sejumlah SMA Purworejo belum menunjukkan hasil yang maksimal karena rata-rata di bawah angka 5. Hasil tersebut berlaku tidak hanya untuk sekolah swasta tetapi juga untuk sekolah negeri. Bahkan untuk sekolah swasta nilai rata-rata untuk bidang studi IPS (Sosiologi dan Ekonomi)  berada di bawah angka 4. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil pembelajaran bidang studi IPS di tingkat SMA untuk wilayah Kabupaten Purworejo kurang menggembirakan.
          Pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran di sekolah, antara lain : guru, siswa,sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan, kurikulum. Dari beberapa faktor tersebut, guru dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah menempati kedudukan yang sangat penting dan tanpa mengabaikan faktor penunjang yang lain, guru sebagi subyek pendidikan sangat menentukan keberhasilan pendidikan itu sendiri.  Studi yang dilakukan Heyneman & Loxley pada tahun 1983 di 29 negara menemukan bahwa di antara berbagai masukan (input) yang menentukan mutu pendidikan (yang ditunjukkan oleh prestasi belajar siswa) sepertiganya ditentukan oleh guru. Peranan guru makin penting lagi di tengah keterbatasan sarana dan prasarana sebagaimana dialami oleh negara-negara sedang berkembang.    Lengkapnya hasil studi itu adalah : di 16 negara sedang berkembang, guru memberi kontribusi terhadap prestasi belajar sebesar 34%, sedangkan manajemen 22%, waktu belajar 18% dan sarana fisik 26%.   Di 13 negara industri, kontribusi guru adalah 36%, manajemen 23%, waktu belajar 22% dan sarana fisik 19% ( Dedi Supriadi, 1999: 178 )
          Rendahnya prestasi belajar siswa dalam bidang IPS disebabkan oleh berbagai macam faktor. Di antaranya adalah  faktor guru ,tidak sedikit mata pelajaran IPS yang disampaikan oleh guru-guru yang bukan berasal dari pendidikan IPS, penelitian yang dilaksanakan oleh Konsorsium Ilmu Pendidikan mengungkapkan bahwa 33% guru SMA mengajar bidang studi di luar bidang keahliannya (Neni Utami. 2003: 1). Di sisi lain tidak menutup kemungkinan guru yang mengajar mata pelajaran IPS kompetensi maupun tingkat pendidikannya kurang dari yang dituntut.
 
Download selengkapnya di sini - download
 
Puskom Universitas Muhammadiyah Purworejo